berhenti mengecam kegelapan .. nyalakan lilin .

Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu :) #indonesiamengajar

Selasa, 14 Januari 2014

tempat pulang itu ...

Kata orang wajah adalah cerminan dari hati. Terkadang wajah itu sendiri tidak bisa berbohong. Tetapi saya bisa belajar untuk menahan. Menahan semuanya, hingga saya merasa bahwa ada waktu untuk menumpahkan semua itu ke dalam gelas.

Gelas itu adalah kamu. Kamu selalu kosong. Pada akhirnya sayalah yang suka memenuhi kamu. Saya senang ketika mengisi kekosongan yang ada di dalam diri kamu: dengan keceriaan, dengan kesedihan, dengan kedataran, bahkan dengan setiap kebosanan yang saya rasakan.

Gelas itu akan meluber. Saya senang ketika melihat perasaan perasaan saya tumpah. Akhirnya mereka mengalir lalu meluap. Saya tidak tahu apakah kamu merasakan perasaan meluber itu atau tidak.

Sampai di sini saya ingin berterima kasih, kamu adalah gelas kosong itu. Kamu tidak pernah mengeluh ketika saya selalu merepotkan. Kamu tidak marah-marah ketika waktumu selalu saya curi, dan kesabaranmu selalu saya curi.

Kamu adalah gelas kosong itu.

Suatu ketika saya menceritakan tentang sebuah perjalanan panjang. Penuh lika-liku. Banyak yang saya temui di jalan. Banyak yang saya alami. Saya lama sekali sampai kepada tujuan. Saya lelah, ingin beristirah. Saya lalu merogoh ke travel bag yang senantiasa menemani saya selama perjalanan. Merogoh ke dalamnya, dan menemukan gelas kosong, meraihnya dengan jari-jari saya, dan membawanya keluar.

Saya lalu menumpahkan segala lelah saya kedalamnya. Kamu menjadi penuh. Dan saya lega. Ketika selesai, saya mengembalikan kamu ke dalam travel bag saya. Saya kembali melanjutkan perjalanan.

Kamu bersama-sama dengan saya melalui jalan panjang dan berliku-liku. Kamu terguncang-guncang karena langkah kaki saya yang mendaki maupun menurun. Tetapi kamu tetap bertahan dan kamu tidak pecah.

Saya menulis ini untuk kamu. Dan ketika menuliskan ini saya tiba-tiba ingat sebuah kalimat yang berkata:


“Sebuah perjalanan panjang yang berliku-liku selalu butuh tempat untuk pulang. Dan tempat pulang itu adalah kamu.”

Sabtu, 30 November 2013

selalu ada pesan di setiap kebetulan !

Temanya minggu ini adalah: setiap orang bisa saling mengirimkan pesan. Setiap orang adalah pembawa pesan bagi yang lainnya. Asalkan kita bisa buka hati kita dan merasa. Hal ini bisa disebut sebagai tanda, signal, frekuensi, “membaca” atau apapun istilahnya.

Saya selalu percaya apapun yang disebut sebagai “kebetulan” sebagai sesuatu yang bukan kebetulan. Mengutip sebuah bacaan: jika kebetulan kebetulan tersebut terlalu banyak terjadi, apakah masih bisa disebut “kebetulan.”

Sampai di sini, saya selalu melakukan itu kepada diri sendiri. Mengecek kebetulan dan meminta tanda. Sedikit absurd memang. Jika saya menjelaskannya: ini akan seperti, setiap hari, ketika saya hendak beraktivitas di pagi hari, mood apapun yang sedang saya lalui, saya selalu memejamkan mata saya dan meminta paling tidak 3 tanda.

Ketika saya membuka mata, saya akan menemukan tanda-tanda itu dari sticker yang ada di mobil yang lewat, tulisan pada papan iklan, atau bisa jadi pada tanda smile berwarna kuning yang terdapat pada helm pengendara motor.

Sebut saya gila. Tetapi jika kamu baca kalimat pembuka saya di atas bahwa “setiap orang bisa saling mengirimkan pesan” dan kamu percaya, maka mungkin kamu juga tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Saya masih ada di dalam penelitian saya tentang hal ini. Bahwa pesan-pesan itu akan datang. 

Bahwa di satu titik, ternyata kita sedang berada dengan frekuensi yang sama dengan orang lain. 

Yang membuat kita akhirnya connecting.

Saya suka mengirimkan sinyal dan pesan saya kepada orang lain dalam diam. Kamu juga bisa melakukannya. Bisa jadi orang tersebut adalah orang yang kamu suka. Atau yang pernah ada di masa lalu kamu. Atau orang yang mungkin akan ada di masa depan kamu sekaligus. Pejamkan matamu sebentar, bayangkan orang itu sebentar, kemudian kirimlah pesanmu lewat hatimu. 
selamatt datang desember :)

Rabu, 20 November 2013

saya, kamu, dia , dan mereka tidak pernah jatuh cinta dengan orang yang salah :)


Akhir-akhir ini saya sedang berpikir bahwa sebenarnya kehidupan terdiri dari pola-pola. Di dalam percakapan saya dengan seseorang teman, kami sepakat bahwa cinta adalah sebuah pola. Bahwa sebenarnya kami hanya mengulangi kisah cinta yang dulunya pernah terjadi oleh orang-orang di atas kami.

Saya pernah melakukannya. Jatuh cinta dengan orang yang salah, katanya. Tetapi saya tidak percaya. Saya tidak percaya bahwa ada kesalahan ketika kita mencintai seseorang. Saya tidak percaya bahwa terdapat sebuah “kesalahan” ketika kita mencintai orang lain. Seperti sebuah “kesalahan” pada lembaran jawaban siswa. Dan ketika salah, guru akan menandainya dengan bolpoin merah.
Hanya saja saya tidak suka kalimat ini: Jatuh cinta dengan orang yang salah.
Kalimat tersebut terlalu egois. Seakan-akan kita tidak pernah melakukan kesalahan di dalam hidup. Kalimat itu juga seakan menyiratkan bahwa, jika kesalahan itu ada di pihak kita, selamanya kita yang benar, dan pihak sebaliknya yang salah.
Bagi saya, setiap orang terbuat dari kesalahan. Tidak ada yang berhak menghakimi orang lain. Saya pernah ada di dalam kondisi yang “salah” dan saya dihakimi. Saya berpikir ulang, kenapa saya dihakimi? dan yang parahnya adalah orang tersebut tidak hanya menghakimi saya. Ia juga menghakimi orang-orang yang berada di dekat saya.
Saya belajar beberapa hal dalam kondisi ini: ketika kamu dihakimi oleh orang lain, sebenarnya orang tersebut sedang menghakimi dirinya sendiri. Itu adalah perwakilan dari isi hatinya. Jangan terlalu dekat dengan orang yang suka menghakimi orang lain.
Kamu tidak pernah jatuh cinta dengan orang yang salah. Tidak ada satu orang pun di bahwa langit ini yang punya kuasa untuk mengatur, yang itu “salah” yang itu “benar” atau yang itu “tepat” karena konon hati manusia itu terlalu dalam untuk dinilai hanya dari permukaannya.
hei kamu , saya jatuh cinta sama kamu : )